Telur Onta [Oneshot]

teluronta

Main Cast:

Jean Anne
Adam Daniel

Other Cast:

Twins; Lady Katya and Lady Eliza
Dane Luke
John Stacy

Genre: Romance, Friendship

“Cinta memang hal yang tak bisa dimengerti. Dan yang membuatku semakin tak mengerti adalah, mengapa aku bisa mencintai orang sepertimu?”

Jean Anne Point Of View

“Dasar telur bodoh.”

“Apa kau bilang?!”

“Kau merasa? haha padahal aku hanya asal bicara, ternyata kau mengakuinya.haha.”

Kutatap pria jangkung kering didepanku dengan pandangan membunuh. Sial, harus berapa banyak orang lagi yang memanggilku dengan sebutan ‘telur’? Memang aku menyukai makanan favorit itu, tapi haruskah mereka memanggilku dengan nama aneh itu juga? ck, membuatku sebal saja.

Sebenarnya aku tak terlalu ambil masalah oleh panggilan orang lain terhadapku, termasuk nama ‘telur’ itu. Tapi entah mengapa jika yang menyebutkannya adalah Adam Daniel-pria jangkung kering didepanku ini- membuatku gerah. Aku tak suka nada bicaranya yang terkesan mengejek, terlebih cengiran bodoh yang selalu ia lakukan.

“Terserah. Dasar onta arab gila.” ucapku sambil melengos keluar kelas. Satu lagi kesialanku, satu kelas dengan orang aneh yang entah berasal dari spesies mana.

Adam Daniel yang kusebut onta arab itu hanya merucutkan bibirnya sebal. Sepertinya ia akan membalas ejekanku barusan namun tak jadi karena aku melengos pergi. Baguslah, setidaknya aku terbebas darinya untuk sejenak.

Daniel, begitu orang-orang memanggilnya. Namun bagiku nama itu terlalu bagus untuk dipakai olehnya. Ia lebih cocok disebut onta arab, wajahnya yang agak ketimuran sangat mendukung untuk panggilan itu. Walaupun ia tergolong pria yang tampan, tapi mengingat sifatnya yang menyebalkan itu rasanya sah-sah saja jika aku memanggilnya onta arab. ok, dan sekarang kenapa aku membicarakan onta arab itu terus?

“Hai telur….” ucap seseorang saat aku tengah berjalan di koridor kelas. Satu orang lagi yang memanggilku telur. Ia menepuk pundakku dengan cukup keras.

“Eliza! sudah berapa kali kubilang jangan datang tiba-tiba. Kau membuatku kaget saja.” semprotku ke arah gadis yang bernama Eliza ini dengan pandangan gemas.

“haha, kau ini sensitif sekali. Dan lagi kau salah, aku Katya bukan Eliza nona Jane.” ucapnya dengan nada santai. Aku menatapnya dengan heran, agak sangsi dengan ucapannya barusan

“Kau jangan mau ditipu olehnya. Dia benar-benar Eliza.” bisik Dane Luke ditelingaku yang entah kapan datangnya. Membuat kepalaku tambah pusing saja. Eliza memang bersaudara kembar dengan Katya-yang berstatus pacarnya Dane. Eliza sering kali menjailiku dengan berpura-pura sebagai Katya, walaupun ulahnya itu sama sekali tak berarti.

“Kau ini, sekali-kali bantulah calon adik iparmu!” teriak Eliza kearah Dane yang sudah berlari menjauh. Dane hanya mengangkat tangannya tak peduli sambil tetap berjalan pergi. Pergi mencari pacarnya kurasa.

“Membantu menjahiliku maksudmu?” ucapku tajam setelah Dane tak terlihat lagi.

“ah..er. ayo cepat ke kantin, aku lapar sekali.” jawabnya salah tingkah

‘dasar, selalu saja mengalihkan pembicaraan’ gumamku dalam hati walaupun aku tetap mengikutinya ke arah kantin

Eliza adalah temanku, dia mempunyai saudara kembar yang bernama Katya. Rumah kami berdekatan, oleh sebab itu kami sudah saling mengenal sedari kecil. Eliza adalah tipe gadis yang sedikit urakan, ia akan berperilaku sesuai mood. Jika ia sedang senang ia akan sangat ramah pada siapapun, tapi jangan harap jika ia sedang dalam mood buruk. Ia akan berubah menjadi sangat menyeramkan.

Lain lagi dengan saudara kembarnya, Katya. Ia lebih cenderung diam, tapi kau jangan ambil kesimpulan terlebih dahulu. Ia benar-benar tak jauh beda dengan kembarannya. Suatu saat, mereka akan kompak menjadi duo kembar yang menyebalkan.

“Hai, sebelah sini!” panggil John dari arah meja kantin paling ujung. Aku dan Eliza langsung menghampirinya. Kantin sudah sangat ramai, agak sulit untuk menemukan meja kantin yang kosong. Untunglah sudah ada John-kekasih Eliza- yang menempatinya.

“Hai sayang..” ucap Eliza genit sambil duduk di sebelah John.

“Hai juga sayang…” jawab John tak kalah genit. Aish~pasangan ini membuatku ingin muntah saja

“Berhentilah bersikap menjijikan.” ucapku datar. Mereka menatapku tidak terima, mulut John malah akan berucap namun tak jadi, membuatku heran saja. Mereka berdua tersenyum mencurigakan, er…aku merasakan hawa aneh

“Daniel kemarilah!” pria jangkung yang tengah mencari meja kosong itu menyambut ajakan Eliza dengan sukacita. Kuberikan tatapan kenapa-kau-menyuruh-dia-kesini namun gadis itu malah tak menggubrisku sama sekali, sial.

“Hah, susah sekali mencari meja kosong. Untung saja kalian mengajakku.” kata orang bernama Daniel itu sembari duduk disampingku. Ia meletakkan nampan berisi nasi goreng dan segelas orange jus. Sepertinya ia belum sadar kalau aku duduk disampingnya.

“Tentu saja kami mengajakmu. Kau kan teman dekatnya Jean. Betul begitukan Jean?” tanya John Stacy terhadapku. Cih ingin rasanya menyumpal mulutnya itu sekarang juga

“Aku tak mengenalnya.” balasku acuh. Daniel yang tersadar ada aku disampingnya menatapku sebal

“Benarkah?” tanya Eliza tak percaya

“Dia benar, aku tak mengenal gadis yang bernama Jean.” kini Daniel yang berbicara. Aku menatapnya tak percaya. Dia bercanda atau menganggap serius ucapanku barusan? Mana mungkin jika dia tak mengenalku, kami sekelas walaupun masih terhitung hanya 4 bulan. Dia bahkan suka menjahiliku, tidak mungkin jika pria ini bodoh sampai tidak mengenal gadis yang selalu ia jahili. Kecuali jika ia memang benar-benar bodoh

“Aku tak mengenal Jean, aku hanya mengenal ‘telur’?” ucap Daniel kemudian dengan cengiran khasnya. Eliza dan John lantas kompak tertawa terpingkal-pingkal. ~aish mereka sama sekali tak membantu

“Terserah katamu! Makan saja telur di piringmu itu!” ujarku sebal sambil bangkit berdiri. Lebih baik aku pergi sebelum menjadi bulan-bulanan mereka. Nafsu makanku benar-benar menjadi hilang.

***

Sepertinya aku terlalu mementingkan egoku, seharusnya aku makan siang saja tadi. Walaupun ada onta arab tapi setidaknya lebih baik daripada harus menahan nyeri di lambungku. Maagku kambuh, menyebalkan.

Alhasil aku tidak bisa fokus pada saat jam pelajaran tadi. Mrs. Elma menyarankan agar aku pulang lebih awal. Saran yang bagus jika tak dirusak oleh seseorang. Daniel, masudku onta arab itu entah bagaimana caranya sehingga ia yang mengantarkanku pulang.

Dan disinilah aku berada. Berbaring di ranjangku setelah mendapatkan ceramah singkat dan berakhir dengan paksaan obat pahit oleh ibuku. Daniel sendiri tengah duduk di sofa kamarku bersama adik perempuanku, Stella.

Aku jadi heran. Sikap Daniel berubah drastis. Ia menjadi sangat sopan dan ramah. Berbeda sekali kelakuannya saat bersamaku. Bahkan cengiran jelek yang selalu ia lakukan berganti dengan senyuman yang terus bersarang diwajahnya. Membuatku bergidik saja, dia benar-benar berkepribadian ganda.

Daniel yang tengah tertawa bersama Stella melirikku sekilas. Aku yang memang sedari tadi memperhatikannya langsung mengalihkan wajahku. Dia tersenyum tipis lantas beranjak dari duduknya lalu menghampiriku.

“Kau sudah baikan?” tanyanya lembut, membuat bulu kudukku merinding

“Aku baik jika tidak ada kau.” ucapku ketus. Daniel yang mendengarnya tak membalasku, ia hanya tersenyum tipis

“Kau ini, berbaik hatilah kepada tamu. Ia sudah mengantarmu loh.” ujar Ibuku yang tiba-tiba saja sudah bergabung bersama kami. Cih pantas saja onta arab ini tak membalasku tadi

“Tak apa Ibu, ia memang sudah biasa seperti itu.” ucapnya santai dan langsung mendapat pelototan tajam dariku

“Ehm, sebaiknya aku harus pulang. Masih ada jam pelajaran yang tersisa.” lanjut Daniel kemudian

“Oh baiklah nak. Terimakasih ya sudah mengantar Jean.”

“Tidak masalah bu, kalau begitu aku pamit.” ucapnya ramah, lantas ia melirikku ” Jean aku pergi ya, cepat sembuh.”

Apa aku salah dengar? Daniel jarang sekali bahkan tidak pernah memanggil nama asliku. Dia selalu memanggilku dengan nama ‘telur’. Ya aku tahu, ada ibuku disini mau tak mau ia harus sopan. Cih aku benar kan dia itu berkepribadian ganda?

“Kak, datang lagi ya nanti kesini.” ucap Stella, adikku, dengan genit. Padahal ia masih berumur 5 tahun. Kurasa sifat genitnya itu menurun dari Eliza. Harus kujauhkan adikku darinya sebelum ia berubah menjadi menyebalkan seperti kembaran itu.

Daniel menjongkokkan tubuhnya, mensejajarkan tingginya dengan Stella. Lantas ia mengacak-acak puncak kepala adikku itu dengan gemas.

“Ia kakak janji.” ucap Daniel sambil tertawa riang.

Astaga, aku sampai lupa tak menarik nafasku beberapa detik. Aku baru melihatnya tertawa seperti itu. Bukan tawa yang menyebalkan yang kerap kali ia lakukan. Tapi tawanya kali ini terlihat begitu menawan. Entah mataku yang salah tapi dia benar-benar terlihat tampan sekarang. Hey aku sudah gila kah sampai memujinya seperti itu?

***

Keesokan harinya aku masih terbarih lemah di kasurku. Hari ini aku akan absen dari kelas kurasa. Untunglah ibuku perhatian dan mengijinkanku untuk istirahat di rumah saja.

Kupikir akan menyenangkan tapi aku salah. Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang. Sangat membosankan, daritadi aku hanya tidur di ranjangku. Berganti-ganti gaya tidur tapi mataku tak kunjung terpejam. Menonton tv pun tak ada acara yang menarik. Makan dan minumpun tak bisa bebas. Ibuku akan mengomel jika aku asal makan dan hanya memperbolehkanku memakan bubur dan buah-buahan saja. Menyebalkan.

“Hai telur….” seru suara cempreng yang sembarangan saja masuk ke kamarku tanpa permisi. Eliza, siapa lagi kalau bukan dia

“Hai Jean.” ucap sebuah suara lainnya. Katya, ya kembarannya yang satu ini cukup sopan. Setidaknya ia masih mau memanggilku dengan benar.

Aku tersenyum melihat keranjang plastik yang ada ditangan Katya. Sepertinya itu coklat, makanan kesukaanku. Ia tahu saja kalau aku memang ingin makan makanan manis itu.

“Kenapa kau membeli makanan manis untuk orang sakit?”

“Jean suka coklat kan? makanya aku membelinya.”

Eliza langsung menyambar keranjang plastik itu tanpa mempedulikan kakaknya dan aku yang menginginkan coklat itu.

“Memang ada alasan untukku memakan coklat? lagipula aku hanya sakit maag.” ucapku tak terima saat coklat itu masuk ke dalam mulutnya.

“Hmm, karena lambungmu akan pahit jika memakan coklat ini. Jadi biar aku saja.”

“Teori macam apa itu.” ucapku sebal. Katya hanya cekikikan disampingku.

‘Eliza sayang angkat telponku’  Eliza langsung mengambil handphone putihnya yang berdering. Asataga, ringtone nya menggelikan sekali. Pasangan ini benar-benar tak pernah berhenti membuatku mual.

Sedetik kemudian Eliza asik berbincang dengan kekasihnya. Aku tak berminat mendengarkan pembicaraan itu, demi kesehatan telingaku juga tentunya.

“Jane, kau diantar siapa kemarin?” tanya Katya tiba-tiba. Ia tersenyum jail kearahku

“Bukan siapa-siapa.”

“Benarkah?”

“Hanya seorang onta arab bodoh.”

“Onta arab bodoh yang begitu ia sukai.” sambung Eliza yang sudah selesai bertelepon ria. Aish apa maksud ucapannya itu

“Benarkah itu twin?”

“Benar kak, bahkan mereka lebih mesra dibandingkan aku dengan John.”

“Ah~pasangan baru. Tunggu, kurasa aku punya julukan untuk pasangan baru ini.”

“Apa itu kak?”

“Telur Onta couple.” ujar Katya yang langsung disambut high five oleh kembarannya. Ck, sudah kubilang kan Katya tak seperti yang dibayangkan? Ia tak beda jauh menyebalkannya seperti Eliza. Apalagi jika mereka bergabung seperti saat ini.

Aku mengacuhkan dua saudara kembar didepanku. Tak ada gunanya juga jika aku memprotesnya sekarang. Mereka tak kan pernah berhenti jika aku melakukannya, jadi lebih baik aku diam saja.

“Nama yang bagus twin. Eh aku harus pergi sekarang, John menungguku. Kau ikut tidak?” tanya Eliza yang dijawab dengan gelengan kepala singkat oleh Katya.

“Kalau begitu aku pergi dulu ya. Cepat sembuh telur.”

Kemudian Eliza menghilang dibalik pintu kamar. Kulihat Katya, sepertinya ada yang aneh jika ia tak ikut pergi. Setahuku ia tak berbeda jauh dengan Eliza menyangkut hal pacar.

“Kau sedang bertengar dengan Dane?”

“Mungkin.” jawab Katya cuek.

Mulutku tak berucap lagi. Hendak berbicarapun aku tak tahu apa yang harus kukatakan. Aku tak berpengalaman dalam percintaan dan segala hal yang berhubungan dengan itu. Kalaupun aku berbicara juga tak kan membantu.

“Kak Daniel datang.” ucap suara cempreng adikku, Stella. Ia menarik tangan Daniel yang entah kenapa terlihat tampan hari ini. Sampai sekarang aku tak bisa melupakan senyumannya yang menawan kemarin. Jantungku berdetak cepat begitu saja saat mata kami bertemu. Kurasa ada baiknya aku menerima usulan ibuku untuk pergi ke dokter, dahiku pasti panas.

“Daniel?” ucap Katya sambil beranjak dari duduknya dan menghampiri pria onta itu.

Sepertinya mereka cukup dekat. Bisa dilihat dari reaksi yang diberikan Daniel saat mereka berbincang. Perasaan tak suka melihat mereka dekat itu tiba-tiba saja menyusup dalam hatiku. Mereka mengacuhkanku dan malah asik berbincang. Onta arab itu bahkan belum menyapaku sejak ia masuk.

“Kau berniat menjengukku tidak sih? kalau tidak cepat keluar. Kau menganggu tidur siangku saja.” ucapku kearah Daniel. Daniel menghentikan obrolannya bersama Katya dan menatapku sekilas. Ia tersenyum tipis

“Aku tak menjengukmu.” jawabnya singkat lalu mengendong Stella ke pangkuannya.

“Aku hanya memenuhi janjiku pada Stella, kau ingat?” lanjut Daniel sambil tersenyum menyeringai kearahku.

Ah benar. Kenapa aku sampai ke geeran dan menyangka dia datang untuk menjengukku. Membuatku malu saja

“Kalau begitu cepat keluar. Aku mau tidur.” usirku

Daniel tak membalas ucapanku dan beranjak pergi. Dan yang membuat darahku naik adalah tangannya yang mengamit lengan Katya keluar “Ayo Katya, kita jangan menganggu nona yang sedang bertelur.”

Katya hanya tersenyum cekikikan dan mengikuti ajakan Daniel keluar. Saat pintu tertutup aku menarik nafasku dan memijat pelipisku perlahan

“Kenapa aku bisa semarah ini melihatnya memegang tangan Katya?”

***

Aku menengok ke dalam perpustakaan. Perpustakaan tak terlalu ramai, malah cenderung sepi. Aku langsung masuk saja saat melihat orang kucari ada didalam.

“Hai kak.” sapaku kearah Dane Luke yang tengah berkutat dengan buku tebal. Ck, pria ini rajin sekali.

“Oh hai.” Dane hanya menjawab seperlunya dan kembali serius ke buku-buku tebal itu.

“Ehm bolehkah aku bertanya?”

Aku menatapnya agak ragu. “Ini tentang Katya.” ujarku kemudian. Dane langsung bereaksi saat aku menyebutkan nama gadis itu. Ia menutup buku tebalnya dan beralih menatapku, memberikan tatapan ada-apa-dengan-dia?

“Kulihat Katya jarang bersamamu. Ada apa dengan kalian sebenarnya?”

Sudah seminggu semenjak aku sakit itu. Dan selama itu aku jarang melihat Dane dan Katya bersama. Aku malah lebih sering melihat Katya dengan onta arab itu. Mencurigakan saja.

Bukan maksudku ingin mencampuri urusan mereka. Namun sebagai teman, apalagi Dane yang sudah kuanggap kakakku sendiri, aku tak ingin melihat mereka renggang seperti ini. Apalagi jika penyebab hubungan mereka retak gara-gara Daniel, aku tak akan terima.

Dane hanya tersenyum kecil, ia mengacak-acak rambutku pelan

“Tak ada. Hanya masalah kecil, kau tak perlu cemas.”

“Benarkah?”

“Benar. Memangnya kau ingin jawaban apa? Aku dan Katya sudah putus begitu?”

“Ah tidak, tentu saja tidak. Mana mungkin aku mengharapkan hal itu. hehe”

Dane tertawa kecil, ia mencubit pipiku. Ia selalu saja menganggapku seperti anak kecil. Aku bersiap akan membalasnya saat kulihat dari kejauhan seseorang memperhatikan kami.

‘Daniel…’

***

“Dingin…” aku merapatkan jaketku.

Saat ini aku sedang berada di taman. Mengikuti kedua mahkluk di depanku yang mencurigakan

Sepulang sekolah tadi aku tak sengaja mendengarkan Daniel yang sedang menelpon seseorang dengan mesra. Dari yang kudengar Daniel meminta seseorang untuk bertemu dengannya di taman kota sore ini. Kesimpulan yang dapat kuambil lawan bicaranya itu adalah seorang gadis.

Aku sendiri juga heran kenapa aku dengan bodohnya mengikuti Daniel sampai ke taman ini. Ada apa dengan otakku sampai penasaran setengah mati akan gadis yang akan ditemui Daniel?

Mungkin karena aku hanya penasaran siapa gadis yang membuat Daniel mengacuhkanku. Ya, mungkin hanya karena itu. Seminggu ini Daniel tak pernah lagi menjahiliku, hal yang sangat aneh karena sebelumnya hampir setiap waktu Daniel menjahiliku.

Menyadari yang kulakukan tak berguna sama sekali aku berniat pergi. Namun niat itu tak terlaksana saat melihat siapa gadis tersebut. Katya? sedang apa ia disini?

Lima menit berlalu, aku tetap mengawasi mereka dalam diam. Aku mencoba berfikir positif, mungkin saja mereka hanya berteman dan bukan berselingkuh seperti yang kupikirkan. Namun pemandangan selanjutnya membuatku tak lagi berpikir positif. Apanya yang disebut teman jika begitu mesra?

Aku mencoba menahan kakiku saat ingin menghampiri mereka. Aku tak ingin menghancurkan persahabatanku dengan Katya. Jika memang benar mereka berhubungan dibelakang Dane, yang patut disalahkan adalah Daniel. Aku yakin Daniel yang terlebih dahulu menggoda Katya. Mana mungkin Katya menjauhi Dane jika tidak digoda oleh Daniel? Lagipula bukti seminggu ini menunjukkan bahwa Daniel selalu mendekati Katya.

Memikirkan hal itu entah mengapa hatiku menjadi sakit. Tak mungkin jika aku mulai jatuh cinta pada onta arab bodoh itu dan cemburu pada Katya. Tapi dari berbagai penepisan yang kukatakan tak ada satupun yang mematahkan fakta itu. Mungkin benar aku cemburu padanya…

Kembali aku melihat kedua orang itu dari jauh. Katya tiba-tiba berdiri dan pergi setelah mendapatkan sebuah telepon. Aku dapat melihat Daniel tersenyum-senyum tidak jelas, dia sudah sendirian sekarang. Bagus, ini saatnya giliranku

“Kenapa kau cengar-cengir begitu? Kau semakin terlihat seperti onta arab bodoh.”

“Jean, maksudku telur. Sedang apa kau disini?” tanya Daniel dengan raut wajah kaget yang dibuat-buat

“Cih, menurutmu? Dasar onta penggoda.”

“Hey, apa maksudmu onta penggoda? Aku tak pernah menggodamu, memikirkannya saja tidak mugkin.”

“Memangnya aku mengatakan yang digoda itu aku? Yang benar saja.”

“Lantas siapa? Kau tak bisa menuduhku penggoda begitu saja. Aku tak terima.”

Kutatap Daniel dengan emosi yang meningkat. Pria ini, haruskah aku mengatakannya secara blak-blakan baru dia akan sadar? Dia memang onta arab yang bodoh

“Siapa gadis yang bersamamu tadi?”

Daniel menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum menyeringgai

“Kenapa? Kau cemburu?”

“Sampai kau pintar pun itu tak akan terjadi.”

“Kau…”

“Katya.” potongku “Apa yang kau lakukan untuk menggodanya? Tak sadarkah jika ia sudah bersama dengan Dane? Kau jangan coba-coba menghancurkan hubungan mereka.”

Daniel hanya menatapku tanpa ekspresi. Seakan yang baru kukatakan tadi masuk ke telinga kanannya dan langsung keluar dari telinga kiri

“Kau benar-benar sedang cemburu.”

“Sudah kubilang aku tidak cemburu!”

“Baiklah. Jika aku mengatakan iya bagaimana? Aku memang menggoda Katya, lantas apa urusanmu mengatakan aku tidak boleh bersamanya?”

Nafasku tercekat. Mendengarkan langsung dari mulutnya ternyata lebih menyakitkan daripada kesimpulanku sendiri. Tidak boleh, Katya tidak boleh bersama Daniel, ia sudah memiliki Dane. Aku tak kan rela kalau mereka sampai bersama.

“Katya sudah terlebih dahulu bersama Dane. Kau tak berhak bersamanya!”

“Berhak katamu? haha, Katya sendiri yang lebih memilihku. Lalu adakah alasan yang lebih masuk akal aku tak boleh bersamanya?”

“Aku menyukaimu!” teriakku putus asa. “Kau puas? Kau sendiri yang membuatku memiliki rasa ini, maka kau harus bertanggung jawab! Oleh sebab itu kau tak boleh bersamanya!”

Tak ada satupun kata yang keluar dari mulut Daniel. Ia hanya menatapku seakan baru mendapatkan berita mengejutkan.

Aku mengutuk bibirku sendiri. Mengapa seterusterang ini? Tapi memikirkan Daniel akan bersama Katya membuatku tak menyesal telah mengatakannya.

“Kenapa lama sekali?” kata Daniel membuatku bingung

“Apa maksudmu?”

Daniel melangkah mendekat kearahku. Membersihkan airmata yang mengucur di kedua pipiku. Sejak kapan aku menangis?

Daniel tersenyum, bukan cengiran yang menyebalkan akan tetapi senyuman menawan yang kusuka. Lantas ia memelukku

“Me too. I love you Jean~”

Aku seperti terkena serangan listrik. Ini mengejutkan, tapi aku tak memungkiri bahwa ini adalah kejutan paling menyenangkan dalam hidupku. Kubalas pelukan Daniel.

“Kau jahat. Mana ada wanita yang mengatakannya lebih dulu?”

“Ada. Itu kau.” ujar Daniel sambil tertawa, aku pun ikut tertawa bersamanya.

“Yahhh~Congratulation Telur Onta Couple~~.”

Aku melepaskan pelukan Daniel dan melihat John, Eliza, Dane dan Katya bersorak sorai tak jauh dari kami. Itu Dane bersama Katya? mereka terlihat baik-baik saja

“Mereka membantuku merencanakan ini semua.” bisik Daniel

“Yak!! Awas kalian semua!! Tak kan kumaafkan ini!!~

_

“Cinta memang hal yang tak bisa dimengerti. Dan yang membuatku semakin tak mengerti adalah, mengapa aku bisa mencintai orang sepertimu?”

“Mungkin aku adalah alasan kau bernafas di dunia ini, begitu pun denganku.”

“Hai darimana kau dapatkan kata-kata itu? Itu bagus, setidaknya tak terlalu menjijikan~.”

END

~Finally~ hah leganya

hahaha. aku ingin tertawa sendiri melihat tulisanku diatas. Gaje? Sangat gaje malahan!

FF ini aku buat untuk “Telor” yang ingin dibuatkan cerita dengan “Onta Arab”, haha. Gimana telor? puas tidak dengan karya anehku? Jangan protes kalau ini kependekkan! Ini ff paling panjang yang pernah aku buat #curcol

Semuanya sudah aku simpan di draft kecuali scene terakhir yang kutulis ngebut barusan. Makanya jangan aneh kalau akhir ceritanya juga aneh~

hahaha, astaga aku tak bisa berhenti tertawa. Ini ff yang paling puas aku bikin sekaligus paling menggelikan. ckck, aku sangat lancar menulis ini tapi ff ku yang kemarin malah belum kuselesaikan. Ntahlah, aku belum ada feel sama ff kemarin. hoho.

Do you like it? so please leave your comment. Much love and respect ♥

8 thoughts on “Telur Onta [Oneshot]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s