Cerpen: Female’s voice

“I was to try talk like others man in around me. But just strange face that I saw. Then they try to find from where’s that voice comes. Shocked, they looked at me and slowly pulled away from me. “

***

Kulihat kertas berisi lowongan kerja di salah satu cafe. Menjadi waiter, kurasa tidak terlalu buruk. Kuperiksa syarat-syaratnya, sepertinya aku bisa diterima. Syaratnya tidak terlalu spesifik, hanya kau harus serius untuk bekerja disana. Tentu saja aku akan serius dan tidak akan menyiakan kesempatan ini begitu saja. Aku butuh pekerjaan. Ku semangati diriku sendiri, dan kuhembuskan nafas keras. Aku bisa!

Aku berjalan dengan mantap ke dalam cafe itu setelah memastikan penampilanku cukup rapih. Bunyi dentingan lonceng terdengar ketika aku mendorong pintu masuk. Seorang waitres berkacamata dengan rambutnya yang terurai indah itu menyambutku dengan ramah. Ah, dia akan jadi parner kerjaku nanti, aku beruntung!

“Selamat sore..anda pesan meja untuk berapa orang?” tanyanya ramah

“Eh sore, ehm..aku,,aku mau melamar kerja disini.” jawabku dengan gugup sambil menunjuk ke arah kertas pengumuman yang ditempel di luar.

Waitres berkacamata itu melongo, dia melihatku dari atas ke bawah dengan pandangan aneh. Beberapa detik kemudian dia tersadar dan melirik kertas pengumuman yang tadi kutunjuk.

“Ah maaf.  Kebetulan kami daritadi menunggu seseorang yang akan melamar kerja menjadi…” ucapan waitres itu terhenti seakan ragu untuk melanjutkannya

“Waiter?” jawabku melanjutkannya

“Hehe, iya waiter. Kau bisa mencobanya. Ayo kuantarkan ke pemilik cafe ini.” aku pun mengikuti langkahnya dari belakang

Kuhembuskan nafas panjang. Aku sudah terbiasa dengan pandangan itu. Tidak sekali atau dua kali. Aku bahkan sampai lelah terus menjelaskan kesalahpahaman ini. Ah sudahlah lupakan saja angin lalu seperti yang biasa kulakukan. Sambil terus mengikuti waitres berkacamata itu aku memperhatikan interior cafe ini dengan sekilas. Suasana eropa sangat kental disini, termasuk perabotan-perbotan dan hiasan di cafe ini. Namun suasana soft tidak bisa dihilangkan, banyak pernak-pernik manis disana-sini. Khas perempuan sekali.

“Itu dia bos kami.” aku tersadar dari kegiatan mengamatiku tadi dan terfokus ke arah seorang wanita berparas manis dengan rambut bergelombangnya sedang menulis sesuatu di meja kasir.

“Tapi dia tidak suka dipanggil bos, dia lebih suka dipanggil Lady.” waitres tadi membisiki-ku seakan menyadari aku memperhatikan bosnya, eh Lady maksudku, tanpa berkedip sama sekali. Ya ampun, sadarlah dengan tujuan utamamu, kau harus mendapatkan pekerjaan ini!

“Lady, ada pelamar menjadi waiter.”

“Selamat sore, Lady.” salamku segera setelah waitres berkacamata ini menunjukku.

Lady itu menghentikan kegiatan menulisnya lalu melihatku sekilas,

“Maaf, aku butuh waiter” lalu ia kembali melanjutkan kegiatan menulisnya yang tadi tertunda.

“Eh ya, aku memang melamar menjadi waiter.”

Lady itu kemudian mendengus kecil, meletakkan bolpoinnya lalu menatapku sekali lagi. Lebih lama dari yang tadi

“Apa kau tahu apa waiter itu?”

“Aku tau.”

“Nah, kalau begitu kau bisa simpulkan sendiri jawabannya.” ucapnya dengan nada yang sedikit kesal.

Aku melorotkan pundakku, kulihat waitres berkacamata itu menatapku simpati. Oh, apakah mereka salah paham? Kenapa semua orang yang kutemui harus kujelaskan terlebih dahulu baru akan mengerti? Bahkan tak jarang yang masih belum percaya sehingga aku harus menjelaskannya berulangkali.

“Maaf, kukira terjadi kesalahpahaman disini. Aku sebenarnya seorang pria.”

Segera setelah aku menyelesaikan kalimat itu. Mata keduanya melotot terkejut, seakan tak pernah menyangka kalimat tadi akan keluar dari mulutku.

“Apa kau….” waitres itu tergugup dengan pertanyaan yang akan ia lontarkan.

“Tidak!” aku segera menjawabnya dengan tegas, aku tahu apa yang akan ia tanyakan. “Aku tak melakukan operasi gender atau semacamnya. Aku benar-benar terlahir menjadi seorang pria.”

“Walaupun…” aku menggantungkan kalimatku. Mereka berdua masih melongo parah, mulut mereka tidak mengatup sejak tadi. Dan mereka masih menunggu kalimat yang akan ku ucapkan selanjutnya.

Aku benar-benar benci mengatakan kalimat ini. Sungguh. Karena kalimat itu mengandung kenyataan yang membuatku selalu di bully saat sekolah dulu. Tak banyak orang yang mau berteman denganku. Aku pernah frustasi sampai sebulan penuh tak pernah keluar dari rumah. Tapi, setelah menyadari tak ada yang bisa kulakukan, dan aku harus menerima dengan penuh rasa syukur atas apa yang ku punya. Aku mencoba untuk ikhlas. Baiklah, kuhembuskan nafas sekali lagi. Aku harus meyakinkan mereka karena saat ini aku butuh pekerjaan. Uang jajanku sebentar lagi habis dan aku tak mau meminta kepada kedua orangku yang sedang membiayai adikku yang baru masuk kuliah, ditambah pula dengan aku yang masih berkuliah.

“Walaupun suaraku seperti perempuan dan wajahku pun terlihat seperti itu. Tapi…aku benar-benar terlahir menjadi seorang pria. Aku bisa tunjukkan kartu identitasku, sungguh.” kukeluarkan kartu identitasku dari dompetku dan kutunjukkan kepada mereka.

“Kalian lihat sendiri bukan. Ini kartu identitas resmi dari pemerintah. Tak mungkin mereka memanipulasi dataku, dan kalaupun aku yang memanipulasi seharusnya aku sudah ditangkap jauh-jauh hari. Benar bukan?”

“Ah,,atau kalian mau melihat akta kelahiranku dari rumah sakit? Aku meninggalkannya di rumah, kalau kalian memang mau melihatnya aku akan pulang mengambilnya sekarang dan akan kembali dalam waktu 15 menit. Bagaimana?”

“Hey….” Lady itu menyahutku

“Ah, kurasa itu terlalu lama. Bagaimana kalian menelpon orangtuaku saja untuk memastikannya? mereka merawatku dari kecil jadi tak mungkin mereka berbohong.” Kukeluarkan ponselku

“Hey,,kau.” Lady itu kembali menyahutku

“Atau kalian mau menghubungi dosenku? Dia seorang dosen yang cerdas, dia tak mungkin bodoh mengira aku sebagai perempuan.”

“Yak! jadi kau mengatakan aku bodoh?” Lady tak bisa menahan emosinya “Kau cerewet sekali. Dan tidakkah kau sadar dengan kau cerewet seperti ini kau malah tak jauh berbeda dengan perempuan? Ah…kepalaku pusing. Sebenarnya kau hanya butuh mengatakan kau itu pria. Aku hanya butuh beberapa saat untuk mencernanya, tapi kau malah melanjutkan ocehanmu terus-terusan seperti beo!” Lady mengatur nafasnya ngos-ngosan karena dia mengatakan itu dengan cepat dan mengebu-gebu

“Jadi kau mengakui bahwa aku seorang pria, kan? Kalau begitu aku bisa diterima menjadi waiter disini, right?”

Aku menangkupkan kedua tanganku, “please…….”

Ending or Continue?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s