Remaking Folklore ‘Sangkuriang’

Di suatu hari yang cerah, Sangkuriang sedang duduk di depan rumahnya dengan mata berbinar. Matanya menatap lurus ke arah dermaga danau dimana sebuah perahu kecil baru saja merapat. Beberapa orang turun dari perahu kecil itu, semuanya nampak biasa baginya. Namun seseorang dengan kerudung merah yang berkibar tertiup angin itu membuat senyumnya merekah seketika.

“Dayang Sumbi.” Lirihnya pelan.

Belum sempat sedetik ketika ia selesai menyebut namanya, kilatan petir menyambar dengan keras di ujung danau. Semua orang disitu langsung berteriak kaget. Ada yang memuji Allah, ada yang berteriak latah dan ada yang berteriak minta tolong. Eh, Sangkuriang langsung tersadar dan matanya langsung mencari sumber suara minta tolong itu.

“Astagfirullah al’adzim, Dayang Sumbi!” teriaknya kencang melihat perempuan berkedung merah itu kini panik setelah terjatuh dari perahu sebelum sempat menginjakkan kakinya di daratan. Ia tercebur ke dalam danau yang dingin itu.

Sangkuriang langsung berlari secepat mungkin dan langsung ikut menceburkan dirinya ke dalam danau untuk menolong Dayang Sumbi. Dari sekian banyak informasi tentang Dayang Sumbi, ia tahu betul kalau perempuan itu tidak bisa berenang sama sekali. Setelah sampai di dekat Dayang Sumbi, ia kebingungan bagaimana cara menolongnya. Ia tak mungkin menyentuhkan tangannya ke tubuh perempuan itu karna dia adalah putri Pak Ustadz yang sangat dihormati di Desa ini.

“Tarik aku, tarik lengan bajuku!” teriak Dayang Sumbi ditengah kepayahannya untuk tetap membuat kepalanya tetap menyebul diatas permukaan air. Sangkuriang langsung mengangguk, meskipun ia sedikit ragu tapi tangannya tetap menarik lengan baju perempuan itu dan membawanya ke daratan.

Sesampainya di daratan semua orang langsung mengerubunginya. Tepatnya mengerubungi Dayang Sumbi. Mereka langsung menanyakan kondisinya tanpa satupun melirik ke arah Sangkuriang. Ia maklum, perempuan itu memang kembang desa dan semua orang menyukainya.

Keesokan harinya Sangkuriang pergi ke Masjid untuk mengikuti kajian tiap Kamis sore yang disampaikan langsung oleh Ustadz Tumang, ustadz sekaligus pemilik pondok pesantren di Desanya. Melihat Ustadz itu membuat Sangkuriang langsung teringat kepada putrinya yang ia tolong kemarin. Ia belum sempat mengobrol dengannya karena saat itu Dayang Sumbi langsung diboyong pulang.

Sangkuriang menenggokkan kepalanya ke belakang, tempat dimana para perempuan berada. Namun sebuah sekat berwarna hijau atau sering disebut hijab oleh para santri disini menghalangi pandangannya. Ia mendengus pelan dan memilih untuk fokus mendengarkan ceramah. Walau hatinya diliputi dengan segudang pertanyaan tentang kondisi perempuan idamannya itu.

Kajian sore itu berakhir tepat sebelum adzan magrib berkumandang. Semua yang hadir lantas tidak pulang, tapi berwudhu sebentar dan ikut solat berjamaah magrib disana. Begitupun dengan Sangkuriang, setelah berwudhu seseorang tiba-tiba menepuk bahunya pelan,

“Mas Sangkuriang?” seorang santri yang menepuk bahunya tadi bertanya

“Eh iya benar, kenapa dik?”

Santri tak dikenal itu langsung tersenyum cerah mengetahui orang yang dicarinya telah berhasil ditemukan.

“Saya ada pesan dari Pak Ustadz, selepas solat magrib Mas Sangkuriang diundang ke rumah beliau. Ada hal yang ingin dibicarakan dengan Mas katanya.”

“Pak Ustadz? Kenapa tiba-tiba dik?”

“Entahlah Mas, saya hanya menyampaikan pesan beliau. Eh itu sudah ikomat, yuk Mas kita solat berjamaah.” Ajak santri itu kemudian berlalu dan meninggalkan tanda tanya besar di kepala Sangkuriang.

Selama solat berjamaah itu kepala Sangkuriang tidak bisa tenang memikirkan ajakan Ustadz Tumang ke rumahnya. Apakah beliau tidak terima ia menarik tangan putri semata wayang beliau itu? Keringat dingin Sangkuriang langsung bercucuran ketika shalat berjamaah itu telah usai.

Meskipun dengan keringat dingin yang semakin bercucuran di dahinya, Sangkuriang tetap melangkahkan kakinya ke rumah Pak Ustadz Tumang selepas solat magrib tadi. Namun sesampainya di depan rumah beliau yang memang tidak jauh dari masjid kakinya berhenti melangkah. Ia bingung harus melangkahkan kakinya untuk mengetuk pintu bercat coklat tua itu atau kembali pulang ke rumahnya saja.

“Nak Sangkuriang?” suara berat dari arah belakang mengagetkannya. Ia berbalik dan melihat Pak Ustadz yang memanggilnya. Ia pun gelagapan menjawabnya, Pak Ustadz hanya tertawa kecil melihatnya gemetaran. Lantas beliau menepuk pundaknya pelan,

“Yuk masuklah ke rumah. Kami sudah menunggu kedatanganmu.”

***

Sudah sekitar setahun berlalu sejak Sangkuriang diundang datang ke rumah Pak Ustadz sekaligus ayah dari perempuan idamannya, Dayang Sumbi. Ternyata undangan itu sebagai bentuk ucapan terimakasih karena sudah menolong putri semata wayang mereka di danau waktu itu. Sejak pertemuan itu Sangkuriang disambut baik oleh keluarga beliau.

Hubungannya dengan Dayang Sumbi pun tidak canggung seperti dulu. Perempuan itu akan tersenyum manis saat mereka tidak sengaja berpapasan. Bahkan ia sampai yakin bahwa Dayang Sumbi juga memiliki perasaan yang sama dengan dirinya. Mereka kerap berkirim surat setiap minggunya.

Namun sudah tiga bulan ia tidak menerima surat balasan dari perempuan itu. Ia tidak bisa menanyakannya langsung karena memang sudah hampir setahun ia pergi merantau untuk ikut berdagang bersama pamannya ke luar pulau. Tujuannya pergi berdagang tidak lain tidak bukan adalah untuk menambah tabungannya agar cukup untuk melamar sekaligus menafkahi Dayang Sumbi nanti.

Tapi tiga bulan tidak mendapat balasan suratnya membuat Sangkuriang mempercepat kepulangannya kembali ke Desa kelahirannya. Ia ingin bertemu dengan perempuan itu dan ia pun siap untuk langsung melamarnya.

Setibanya di kampung halaman ia melihat orang-orang berbondong-bondong pergi ke masjid.  Sangkuriang ingat ini hari kamis, selalu ada kajian sore di Mesjid itu. Ia pun memutuskan untuk ikut bersama warga yang lain untuk pergi ke Masjid. Setelah kajian dan solat magrib ia akan menemui rumah perempuan itu seperti rencananya semula.

Masjid itu tampak penuh, beruntung ia masih dapat tempat duduk. Nampak seorang pemuda berkulit putih dan wajah yang rupawan berdiri di balik mimbar. Ia ternyata yang menyampaikan kajian sore itu. Materinya sangat menarik, ia sangat berbakat menjadi Ustadz. Terlihat sekali ia pandai menguasai materi yang disampaikannya, membuat Sangkuriang sedikit iri.

Selepas pemuda itu ceramah, Ustadz Tumang menghampiri dan ikut berdiri bersama pemuda tersebut di belakang mimbar. Ia pun berpidato,

“Alhamdulillah, materi yang sangat menarik sekali. Bukankah ia sangat berbakat?” semua orang yang hadir disitu langsung mengangguk setuju. Pak Ustadz kembali berbicara.

“Syukurlah, usiaku sudah tidak muda lagi. Kini aku bisa tenang membiarkan menantuku untuk menggantikanku mengisi kajian disini.”

Mata Sangkuriang melotot, menantu?

“Ustadz Bahrudin ini adalah suami dari putriku Dayang Sumbi yang beliau nikahi pekan lalu.”

Selanjutnya kata-kata yang diucapkan Ustadz Tumang tidak bisa Sangkuriang dengar dengan jelas. Kedua matanya memanas sampai bahunya bergetar. Perempuan idamannya, yang akan dilamarnya ternyata sudah memiliki suami. Semua mimpi dan rencana yang telah ia susun sempurna menjadi tak berguna.

“Ya Allah, Engkau adalah sebaik-baiknya pengatur takdir. Betapa hamba tak berdaya atas rencana-Mu. Hamba mohon, berilah aku kekuatan dan keikhlasan menerima takdir-Mu ini.” Isak Sangkuriang lirih.

2 thoughts on “Remaking Folklore ‘Sangkuriang’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s